Harmoni Budaya di Tahun Kuda: UNESA Rayakan Imlek 2026 dengan Semangat Akselerasi

Published On: February 12, 2026

Surabaya – Auditorium Gedung T2 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNESA menjadi venue kemeriahan perayaan Tahun Baru Imlek yang digelar oleh Confucius Institute (CI) UNESA pada Kamis, 12 Februari 2026. Sebagai bentuk sinergi lintas institusi, acara ini tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga memperkuat jalinan persaudaraan antar-lembaga pendidikan dalam semangat keberagaman.

Tahun Baru Imlek kali ini memiliki makna mendalam sebagai Tahun Kuda. Dalam kosmologi Tiongkok, kuda melambangkan energi, keberanian, dan kecepatan. Di dunia pendidikan, simbolisme ini sangat relevan sebagai representasi etos kerja keras dan ketangkasan mahasiswa dalam mengejar ilmu pengetahuan. Sifat kuda yang terus berlari mencerminkan semangat pembelajar sepanjang hayat untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi, selaras dengan semangat #SATULANGKAHDIDEPAN yang senantiasa diusung oleh UNESA.

Acara dibuka dengan sambutan inspiratif dari Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi UNESA, Bapak Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, S.Pd., M.Kes. Beliau menekankan bahwa tekad untuk terus melaju di Tahun Kuda sangat sejalan dengan visi UNESA untuk mendorong civitas akademika terus berprestasi dan berinovasi di tingkat global. Beliau juga mengapresiasi kontribusi Confucius Institute dalam mempererat hubungan budaya Indonesia-Tiongkok yang telah berjalan selama 76 tahun. Sebagai penutup, beliau membawakan pantun: “Kuda berlari menembus cakrawala, derap langkah menggema di angkasa. Imlek dirayakan penuh sukacita, tahun kuda melaju jaya jaya jaya.”

Melengkapi semangat tersebut, Miss Zhu Li, Direktur Confucius Institute UNESA dari pihak Tiongkok, menyampaikan rasa syukur dan menekankan bahwa perayaan Imlek adalah momentum penting untuk mempererat persahabatan (friendship) melalui pertukaran budaya. Beliau berharap agar kerja sama pendidikan ini membawa keberuntungan dan kemajuan bagi kedua belah pihak di Tahun Kuda ini.

Kemeriahan acara ini semakin terasa istimewa dengan kehadiran para tamu terhormat yang memadati auditorium. Miss Zhu Li bersama pimpinan universitas menyambut para delegasi mitra strategis, termasuk rombongan Perhimpunan Pendidikan Kristen (PPPK) Petra yang dipimpin langsung oleh Direktur Eksekutif, Bapak Ir. Hengkie Porawouw, M.B.Α. Beliau hadir didampingi oleh jajaran manajemen dari Direktorat Pendidikan Bidang Seni serta tim Humas Marketing dan Kerja Sama PPPK Petra. Selain itu juga di hadiri dari perwakilan sekolah lain dan Lembaga Pendidikan.

Suasana kekeluargaan semakin kental dengan kehadiran para guru dari SD Kristen Petra 11 yang datang untuk memberikan dukungan langsung kepada anak didiknya. Di antara deretan kursi undangan, tampak pula orang tua dari Winston Lawrence Wattimena dan Vanessa Ludwinia Wattimena yang hadir dengan rasa bangga menyaksikan putra-putri mereka tampil. Melengkapi ekosistem pendidikan yang inklusif ini, hadir juga para mahasiswa UNESA yang saat ini tengah menjalankan program magang di SD Kristen Petra 11, menunjukkan implementasi nyata kolaborasi akademis antar-kedua institusi.

Kegiatan dimulai dengan tertib sejak pukul 08.30 WIB melalui proses registrasi, yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan oleh MC dan khidmatnya lagu kebangsaan Indonesia Raya pada pukul 09.00 WIB. Setelah sambutan hangat dari Wakil Rektor UNESA dan Miss Zhu Li, seluruh tamu undangan melakukan doa bersama dan sesi dokumentasi foto sebelum memasuki inti acara.

Panggung utama kemudian diwarnai dengan rangkaian pertunjukan seni yang memukau secara berurutan. Winston Lawrence Wattimena dan Vanessa Ludwinia Wattimena membuka sesi ini dengan permainan instrumen Guzheng dan Tambur yang harmonis, yang kemudian disusul oleh penampilan energik siswa-siswi Lab School yang membawakan seni bela diri Wushu. Keragaman budaya terus ditampilkan melalui tarian dari Adi Purnomo, keanggunan Tarian Payung, hingga penampilan yang apik dari siswa-siswi SD Kristen Petra 11. Sisi akademis turut mewarnai panggung di mana mahasiswa prodi Mandarin menyanyikan lagu “Hau Siang Hau Siang” dengan penuh penghayatan, sebelum akhirnya rangkaian pertunjukan ditutup secara emosional oleh paduan suara dosen melalui lagu “Tong Hua”.

Menjelang siang, para tamu undangan diajak mengeksplorasi sisi interaktif melalui enam booth budaya yang disiapkan secara detil sebagai jendela kultur Tiongkok. Di booth Simpul Tiongkok (Zhongguo Jie), pengunjung dapat mempelajari anyaman tali merah yang memiliki makna filosofis mendalam seperti keberuntungan dan persatuan abadi. Sementara itu, di booth Seni Gunting Kertas (Jianzhi), pengunjung melihat keindahan pola-pola rumit sebagai simbol kebahagiaan.

Area Foto Hanfu menjadi salah satu primadona di mana pengunjung mendapatkan edukasi mengenai identitas etnis Han dari berbagai dinasti. Selain itu, terdapat edukasi mengenai Seni Cetak Gosok (Tuoyin) sebagai cikal bakal teknologi reproduksi teks dunia. Bagi yang menyukai tantangan, tersedia permainan Lempar Panah ke Guci (Touhu) yang merupakan tradisi aristokrat kuno untuk melatih konsentrasi. Terakhir, pengunjung dapat menikmati keindahan Kipas Pernis (Qishan) dengan teknik pewarnaan pernis artistik yang eksklusif.

Ibu Dwi Lorry Juniarisca, S.Pd., M.Ed., selaku Direktur Confucius Institute UNESA pihak Indonesia, menyatakan rasa bangga dan syukurnya atas tingginya antusiasme peserta. Beliau menyampaikan bahwa acara ini merupakan manifestasi dari komitmen CI UNESA dalam menjembatani pertukaran budaya yang inklusif. “Melalui booth budaya dan pertunjukan seni ini, kami ingin memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dan mitra untuk merasakan kekayaan tradisi Tiongkok. Harapan kami, kegiatan ini semakin memperkuat toleransi dan pemahaman lintas budaya di lingkungan kampus,” tuturnya.

Kebanggaan terpancar jelas dari wajah para orang tua yang hadir mendampingi putra-putri mereka. Ibu Lia Agustina Ontari, ibunda dari Winston Lawrence Wattimena (SMP Kristen Petra Acitya) dan Vanessa Ludwinia Wattimena (SD Kristen Petra 5), menyampaikan apresiasi mendalam atas kesempatan yang diberikan oleh UNESA dan Confucius Institute. Bagi beliau, panggung ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah wadah berharga bagi siswa-siswi PPPK Petra untuk menyalurkan talenta yang telah mereka asah.

Meskipun persiapan khusus untuk acara ini dilakukan dalam waktu singkat, yakni sekitar dua hingga tiga hari, Ibu Lia menegaskan bahwa anak-anaknya selalu dalam kondisi siap tampil karena pembinaan seni yang berkelanjutan. Beliau memuji ekosistem pendidikan di PPPK Petra yang dinilai sangat seimbang. “Di Petra, selain akademik, bidang talenta juga sangat difasilitasi, salah satunya melalui program Petra Youth Talent. Pengembangan bakat anak-anak sangat didukung penuh, dan kami sebagai orang tua merasa sangat terbantu dengan adanya wadah seperti ini,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.

Kemeriahan perayaan Tahun Baru Imlek yang diselenggarakan oleh Confucius Institute (CI) UNESA tidak hanya menarik perhatian tamu undangan, tetapi juga memicu antusiasme luar biasa dari kalangan mahasiswa. Ella, mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2025, mengungkapkan rasa kagumnya saat mengikuti acara ini untuk pertama kalinya.

Bagi Ella, seluruh rangkaian acara yang disuguhkan terasa sangat menarik dan berkualitas tinggi. Saat ditanya mengenai bagian mana yang paling berkesan, ia menyatakan bahwa seluruh penampilan seni yang ada di panggung memberikan kesan yang sangat bagus dan memukau.

Kehadiran mahasiswa yang memenuhi auditorium ini merupakan bentuk dukungan langsung terhadap kegiatan prodi, di mana mereka hadir memenuhi undangan dari para Laoshi (dosen) untuk turut memeriahkan suasana. Ella menilai momen Imlek tahun ini terasa sangat meriah dan menjadi pengalaman berharga bagi para mahasiswa dalam mengenal budaya Tiongkok lebih dekat secara langsung di lingkungan kampus.

Seorang mahasiswi, Wulan, menyampaikan rasa bangganya atas kesuksesan acara yang dinilai sangat megah dan tertata dengan sangat baik. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ajang pembuktian eksistensi program studi mereka di lingkungan kampus.

Selaras dengan kekaguman tersebut, muncul harapan besar yang disampaikan oleh para mahasiswa untuk masa depan prodi mereka. Mereka berharap agar Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin UNESA dapat terus berkembang menjadi program studi yang semakin maju, kompeten, dan dikenal luas. Keberhasilan acara yang dikoordinasi oleh Confucius Institute ini menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa untuk belajar lebih giat dan berkontribusi lebih besar.

Selain harapan untuk internal kampus, mahasiswa juga menitipkan doa agar sinergi antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam bidang pendidikan dan pertukaran budaya, dapat terus terjalin erat. Mereka percaya bahwa dengan dukungan penuh dari institusi seperti Confucius Institute, peluang mahasiswa untuk mengeksplorasi ilmu dan pengalaman lintas budaya akan semakin terbuka lebar, membawa kesuksesan bagi seluruh civitas akademika di masa mendatang.

Kegiatan yang dikoordinasi secara apik ini resmi berakhir pada pukul 12.00 WIB, mempertegas posisi UNESA sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menjunjung tinggi toleransi, inklusivitas, dan wawasan global.

Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!