IRTC 2025: Dari Daun Wungu ke Panggung Dunia

Published On: November 19, 2025

Kisah Guru PPPK Petra Meraih Medali Emas di Ajang IRTC 2025

Saya adalah seorang guru Biologi di SMA Kristen Petra 5, salah satu sekolah yang berada di naungan PPPK Petra. Dalam beberapa tahun ke depan, saya akan memasuki masa pensiun. Namun, ada satu kerinduan yang belum sempat saya wujudkan: memperkenalkan sekolah tercinta, PPPK Petra, ke kancah internasional melalui kecintaan saya pada dunia penelitian. Selama ini, saya menyalurkan hobi tersebut melalui bimbingan karya ilmiah untuk siswa. Tetapi kali ini, saya ingin melangkah lebih jauh—mewujudkannya sendiri.

Awal Semangat: Dari Pelatihan ke Aksi

Segalanya bermula saat saya mengikuti pelatihan pembimbing karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Litbang (Penelitian dan Pengembangan) PPPK Petra. Di sanalah saya mengetahui tentang International Research Teachers Competition (IRTC), sebuah ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Lomba ini terbuka bagi guru-guru dari tingkat nasional hingga internasional, dan diselenggarakan dalam dua kategori, Life Science dan Education. Lomba ini dilaksanakan secara hybrid, yaitu online dan offline, baik tingkat nasional maupun internasional.

PPPK Petra mengirimkan dua tim. Satu tim mengikuti secara online, dan satu tim—termasuk saya—mengikuti secara offline. Untuk mengasah kemampuan berbahasa asing, kami semua memilih kategori bertaraf internasional.

Daun Wungu: Harapan bagi Wanita Menopause

Bersama Bapak Linus Nara Pradhana, S.Si. dari SMP Kristen Petra 1 dan Ibu Vinsentia Pramudhana Dewi Nawangsekar dari SMA Kristen Petra 1, kami membentuk tim dan mengangkat tema Life Science. Kami meneliti potensi daun wungu (Graptophyllum pictum) yang mengandung fitoestrogen, senyawa aktif yang dapat meningkatkan kadar hormon estrogen pada wanita menopause.

Mengapa ini penting? Wanita yang telah menopause rentan mengalami penyakit jantung koroner karena menurunnya kadar estrogen, hormon yang berperan menjaga kadar lemak darah tetap seimbang. Penurunan estrogen menyebabkan LDL meningkat, HDL menurun, dan pembuluh darah menjadi kaku serta mudah terbentuk plak, yang berujung pada risiko hipertensi dan kerusakan endotel aorta.

Penelitian kami dilakukan selama satu bulan pada tikus putih. Kelompok A diberi ekstrak daun wungu 10%, kelompok B diberi 20%, dan kelompok C tidak diberi ekstrak daun wungu. Kelompok perlakuan, yaitu A dan B, diberi sebanyak 20 ml per hari melalui metode sonde. Hasilnya menunjukkan bahwa tikus yang tidak diberi ekstrak daun wungu mengalami peningkatan berat badan dan penyempitan pembuluh darah. Sementara itu, tikus yang diberi ekstrak 20% menunjukkan aorta yang bersih tanpa plak, menandakan potensi daun wungu sebagai solusi alami pencegah jantung koroner.

Dari Laboratorium ke Bali

Setelah menyusun makalah berjudul Wungu Extract: A Novel Phytotherapeutic Approach to Postmenopausal Atherosclerosis with Proven Safety Profile, kerja sama dengan Universitas Airlangga dan Alam Sari Petra (ASP), kami mendaftar dan bersiap mengikuti lomba offline di Hongkong Garden International Restaurant, Denpasar, Bali, pada tanggal 12–15 November 2025. Puji Tuhan, semua biaya ditanggung oleh PPPK Petra. Kami berangkat dengan semangat dan penuh tanggung jawab.

Panggung Internasional yang Menggugah

Hari pertama, acara dibuka dengan parade bendera dari berbagai negara peserta, di antaranya Singapura, Malaysia, Meksiko, Taiwan, dan Iran. Total ada 28 negara yang berpartisipasi. Hari kedua, kami mendekorasi booth dan mempersiapkan poster ukuran A0. Pukul 10.00 WITA, sesi penjurian dimulai dengan menggunakan bahasa Inggris. Juri pertama, Mr. Myochokan dari Singapura. Juri kedua, Mrs. Reyna dari Meksiko, yang mana sangat tertarik dengan penelitian kami. Ada sedikit kendala saat penjurian, yaitu aksen/logat juri yang membuat kami salah persepsi, sehingga kami sempat meminta beliau mengulang pertanyaannya. Instrumen penjurian meliputi poster, booth, presentasi, dan tanya jawab.

Medali Emas untuk Guru PPPK Petra

Hari ketiga, saatnya pengumuman pemenang, kami menunggu dengan berdebar. Ketika nama kami disebut sebagai peraih gold medal untuk kategori Life Science, kami tak kuasa menahan haru. Ini adalah medali internasional pertama yang diraih oleh tim guru PPPK Petra. Sebuah pencapaian yang membanggakan dan menjadi bukti bahwa guru Petra tak hanya piawai di kelas, tetapi juga mampu bersaing di panggung ilmiah dunia.

Sementara itu, tim online yang diwakili oleh Bapak Rosy Eko Saputro, S.Si., M.Si. dari SMA Kristen Petra 2, juga meraih gold medal dengan makalah berjudul Adsorption Enhancement of Coconut Waste-Based ZnO/Activated Carbon Nano Composite as an Eco-Friendly Water Remediation.

Lebih dari Sekadar Lomba

Partisipasi dalam IRTC bukan hanya soal medali. Ada nilai-nilai penting yang kami bawa pulang:

  • Peningkatan kompetensi guru dalam meneliti dan menulis karya ilmiah.
  • Teladan bagi siswa, bahwa guru pun terus belajar dan berkarya.
  • Jejaring pendidikan yang terbangun dengan sekolah dan peneliti dari berbagai negara.
  • Wawasan baru tentang model lomba ilmiah dan pengalaman langsung dalam pameran poster ilmiah.
  • Penerapan langsung dalam pembelajaran Biologi, khususnya pada materi sistem hormon, keanekaragaman tumbuhan, lingkungan, dan sistem peredaran darah.
  • Motivasi bagi siswa untuk lebih peka terhadap permasalahan di sekitar dan berani meneliti.

 Harapan untuk Masa Depan

Kami berharap, penelitian ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi kesehatan wanita menopause, sekaligus menjadi inspirasi bagi guru-guru dan siswa PPPK Petra untuk terus berkarya, meneliti, dan membawa nama sekolah ke tingkat global.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga peneliti, pembelajar, dan pembawa perubahan.”

Penulis: Ninik Suprapti, S.Pd., M.Si.

Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!