Tawarkan Inovasi Pangan Rendah Glikemik, Tunjukkan Kiprah Peneliti Muda Indonesia

Published On: December 5, 2025

Upaya pengembangan pangan fungsional rendah gula kembali mendapat sorotan nasional melalui keberhasilan tiga siswa SMA Kristen Petra 5 Surabaya. Kayleen Aurelia Indrawan, Josefina Citra Kristianto, dan Cherrylin Aurelia Chandra—anggota tim yang seluruhnya siswa kelas XII—berhasil meraih medali emas pada ajang FIKKIA Olympiad and Research Competition (IMPACT) 2025 di Universitas Airlangga Banyuwangi pada tanggal 12–15 September 2025; sesi final setelah melalui penyisihan yang diikuti oleh para tim dari berbagai kota di Indonesia.

Prestasi ini tidak hanya mencerminkan kemampuan akademik, tetapi juga menggambarkan bagaimana generasi muda mampu berperan dalam isu strategis bangsa: ketersediaan alternatif pangan yang lebih aman bagi masyarakat berisiko diabetes.

Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius terkait prevalensi diabetes melitus (DM) tipe 2. Pada tahun 2024, jumlah penderita mencapai 20,4 juta jiwa—angka yang menempatkan Indonesia dalam jajaran negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia. Kondisi ini menuntut inovasi pangan pokok yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga memiliki nilai gizi dan indeks glikemik yang lebih aman bagi masyarakat.

Kesadaran itulah yang mendorong tiga peneliti muda ini memilih topik “Fortifikasi Mbore (Mbothe Rice) sebagai Inovasi Beras Rendah Gula untuk Mendukung Pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2”.

Menurut Kayleen, ketua tim, “Kami melihat fakta bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat bergantung pada karbohidrat sederhana. Itu mendorong kami mencari sumber pangan alternatif yang dapat membantu menurunkan risiko diabetes.”

Umbi mbothe (Colocasia esculenta) dipilih karena kandungan pati resisten dan potensi bioaktifnya yang telah dilaporkan memiliki efek menurunkan respons glikemik. Dari bahan lokal inilah mereka menciptakan MboRe (Mbothe Rice)—beras analog rendah glikemik yang diformulasikan secara ilmiah untuk kebutuhan penderita DM tipe 2.

Penelitian ini dilakukan melalui metode eksperimen laboratorium murni, bekerja sama dengan Laboratorium Politeknik Kesehatan Malang. Proses penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan, memastikan reliabilitas data dan pemenuhan standar riset ilmiah.

Pembimbing tim yang merupakan guru Biologi di SMA Kristen Petra 5, Ibu Ninik Suprapti, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa seluruh pengujian mengikuti prosedur SNI, meliputi:

  • Uji proksimat (protein, lemak, air, energi)
  • Uji organoleptik
  • Analisis fisikokimia (indeks glikemik, tekstur, serta kandungan bioaktif)

Hasilnya menunjukkan performa MboRe yang sangat menjanjikan:

  • Indeks glikemik (IG): 35 → kategori low glycemic food
  • Protein: 8,3% → lebih tinggi dari beras putih (6–7%)
  • Kadar air rendah: 10,1% → meningkatkan stabilitas penyimpanan
  • Energi lebih rendah: 341 kkal/100 g
  • Kandungan bioaktif: flavonoid, alkaloid, tanin yang berpotensi antidiabetik

MboRe juga memperoleh apresiasi dari sisi sensorik, menunjukkan bahwa pangan alternatif tidak harus mengorbankan preferensi konsumen:

  • Warna: 8,1
  • Rasa: 8,1
  • Aroma: 8,0
  • Tekstur: 8,2

Inovasi MboRe dipertegas melalui penggunaan teknologi ekstrusi, sebuah metode pengolahan pangan modern yang memungkinkan penciptaan struktur menyerupai beras.

Tahapan proses meliputi:

  1. Formulasi adonan: pencampuran tepung mbothe dengan lipid, emulsifier, mineral, dan hidrokoloid.
  2. Prekondisi: pemanasan 80–90 °C agar adonan plastis dan homogen.
  3. Ekstrusi: pencetakan butiran menyerupai nasi.
  4. Pengeringan: menurunkan kadar air agar beras stabil dan memiliki umur simpan panjang.

Proses ini bukan hanya menuntut ketelitian teknis, melainkan juga melibatkan kemampuan analisis, evaluasi variabel, hingga optimasi formula—kompetensi yang sangat penting dalam riset pangan modern.

“Kami mengalami kegagalan berkali-kali, tetapi setiap kali itu kami belajar bagaimana memperbaiki struktur, warna, dan konsistensinya,” cerita Josefina.

Prestasi ini menjadi cerminan komitmen SMA Kristen Petra 5 dalam mengembangkan ekosistem riset di tingkat sekolah menengah. Kepala SMA Kristen Petra 5, Dra. Cahyo Fajariati, M.Pd., menegaskan bahwa penelitian merupakan strategi penting untuk mendorong siswa menembus perguruan tinggi negeri sekaligus menanamkan budaya ilmiah sejak dini. “Kami ingin siswa tidak hanya menjadi pembelajar, tetapi juga pencipta inovasi. Penelitian adalah ruang di mana mereka bisa mengembangkan daya pikir kritis sekaligus berkontribusi pada masyarakat,” ujarnya.

Dalam konteks pendidikan abad ke-21, lahirnya peneliti muda seperti Kayleen, Josefina, dan Cherrylin, merupakan aset berharga. Mereka bukan sekadar peserta lomba; mereka adalah generasi yang diberi kesempatan untuk:

  • mengidentifikasi masalah nasional,
  • menemukan solusi berbasis sains,
  • memvalidasi ide dengan metodologi ilmiah, dan
  • mengomunikasikan temuan mereka secara bertanggung jawab.

Dengan membawa pulang medali emas IMPACT 2025, ketiga siswa ini berharap penelitian mereka kelak dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang diproduksi massal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami ingin MboRe suatu hari bisa diproduksi dan membantu mengurangi beban penderita diabetes di Indonesia,” tutup Kayleen.

Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!