Kelas Bahasa Mandarin di TK Kristen Petra 11

Published On: August 4, 2025

Setiap hari Senin selama bulan September 2025, menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya sebagai guru bahasa Mandarin di TK Kristen Petra 11. Mengajar anak-anak usia taman kanak-kanak selalu menghadirkan tantangan sekaligus kegembiraan. Mereka penuh rasa ingin tahu, cepat tanggap, dan selalu membawa energi positif ke dalam kelas, baik ketika belajar secara daring maupun tatap muka.

Pada awal bulan, pembelajaran dilakukan secara online. Meskipun kami tidak berada di ruangan yang sama, antusiasme anak-anak tidak berkurang. Topik pertama yang kami pelajari adalah kosakata anggota keluarga dalam bahasa Mandarin. Anak-anak diperkenalkan pada kata-kata sederhana seperti 爸爸 (ayah), 妈妈 (ibu), 哥哥 (kakak laki-laki), 姐姐 (kakak perempuan), 弟弟 (adik laki-laki), dan 妹妹 (adik perempuan).

Untuk membuat pembelajaran lebih menarik, saya menampilkan gambar-gambar keluarga dan mengajak mereka bernyanyi bersama lagu sederhana yang mengulang kosakata tersebut. Saya juga memberikan kesempatan bagi setiap anak untuk menyebutkan anggota keluarganya sendiri dalam bahasa Mandarin. Meskipun masih ada beberapa pelafalan yang perlu diperbaiki, mereka sudah berani mencoba dan terlihat senang ketika bisa menyebutkan kata dengan benar.

Setelah masa pembelajaran online usai, anak-anak kembali ke sekolah. Suasana tatap muka tentu memberikan suasana berbeda. Saya dapat melihat ekspresi mereka secara langsung, dan interaksi pun menjadi lebih menyenangkan. Anak-anak belajar tentang warna dalam bahasa Mandarin dengan menyebutkan warna dasar seperti (merah), (biru), 绿 (hijau), (kuning), dan beberapa warna lain.

Untuk membantu mereka mengingat, saya menyiapkan kartu warna besar dan berbagai permainan, seperti tebak-warna dan mencari benda di kelas sesuai dengan instruksi dalam bahasa Mandarin. Misalnya, saya akan berkata, “请找红色的东西!” (Silakan cari benda berwarna merah!), dan mereka akan berlarian mencari benda merah di sekitar ruangan. Aktivitas ini membuat kelas menjadi hidup dan penuh tawa. Kami juga menutup pelajaran dengan kegiatan mewarnai gambar sambil mendengarkan instruksi sederhana dalam bahasa Mandarin, misalnya “把天空用蓝色” (warnai langit dengan warna biru).

Sebagai guru, saya merasa bangga dan terinspirasi. Mengajar bahasa asing pada anak usia dini memang memerlukan kesabaran, kreativitas, dan metode yang tepat. Namun ketika melihat senyum dan semangat belajar mereka, segala persiapan dan usaha terasa terbayar lunas. Semoga pengalaman belajar Mandarin yang penuh keceriaan ini menjadi pijakan awal bagi anak-anak untuk terus mengembangkan minat mereka terhadap bahasa dan budaya Tiongkok pada masa yang akan datang.

Penulis: Shinta Widyantari

Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!