Kegiatan Retret dan Kebersamaan Karyawan Kantor Sekretariat PPPK Petra Tahun 2026
SALATIGA – Mengawali perjalanan spiritual dan penguatan organisasi, Kantor Sekretariat (Kansek) PPPK Petra memulai rangkaian kegiatan Retret dan Kebersamaan dengan penuh antusiasme. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 13-14 Februari 2026. Mengusung visi “Empowering People, Building a Sustainable Future”, hari pertama kegiatan dirancang sebagai momen transisi dari kesibukan operasional menuju perenungan jati diri dan penyelarasan visi besar lembaga.
Hari Pertama: Menjalin Kesatuan Sejak Langkah Awal
Pukul 07.00 WIB, semangat kebersamaan sudah terpancar di dua titik keberangkatan di Surabaya. Rombongan dibagi ke dalam dua titik kumpul utama untuk efisiensi koordinasi:
- Kantor Sekretariat (Pucang): Menjadi titik keberangkatan bagi dua unit bus.
- SMA Kristen Petra 1 (Graha Famili): Menjadi titik keberangkatan bagi satu unit bus.
Perjalanan darat menuju Salatiga berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Tepat pukul 11.30 WIB, ketiga bus tiba di D’emmerick Salib Putih Hotel, Salatiga. Udara pegunungan yang segar menyambut para peserta, seolah menjadi penanda dimulainya proses penyegaran jiwa. Sebelum memasuki agenda formal, seluruh peserta melakukan sesi foto bersama di area terbuka hotel sebagai simbol kesatuan hati, yang kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama untuk mempererat relasi antarstaf.
Agenda utama dibuka dengan ibadah pembukaan yang semarak. Pujian-pujian penuh energi seperti “Kudaki-daki”, “Jalan Serta Yesus (Remix)”, dan “Bersyukurlah kepada Tuhan” membangkitkan semangat peserta. Puncaknya, lagu “Kuterhubung” (dipopulerkan oleh Yeshua Abraham) membawa suasana ke dalam penyembahan yang teduh, mempersiapkan hati untuk menerima firman.
Dalam sesi renungan utama bertajuk “Naik Level: Dari Rutinitas Menuju Kedewasaan Iman”, Ibu Ribka membedah realitas kehidupan profesional di PPPK Petra. Ia mengingatkan bahwa di balik ritme kerja yang padat, ada bahaya “Jebakan Sukses Duniawi”. Kerap kali kita terjebak mengartikan ‘naik level’ hanya sebagai pencapaian materi, jabatan, atau strategi mengejar keuntungan semata. Hal ini berujung pada kelelahan jiwa, yang mana kita produktif di luar namun kosong di dalam.
Lebih lanjut, ia menjabarkan jenjang pertumbuhan rohani berdasarkan 1 Yohanes 2:12-14:
- Tahap Anak-anak (Identitas): Menyadari diri dicintai dan diampuni oleh Tuhan.
- Tahap Orang Muda (Kekuatan): Memiliki Firman yang tinggal di hati untuk menang melawan godaan.
- Tahap Kedewasaan (Keintiman): Kedewasaan untuk mengenal hati Tuhan secara pribadi.
Sebagai aplikasi praktis, ia menutup dengan “Langkah Kecil Hari Ini”, yakni sebuah refleksi diri tentang satu kehendak Tuhan yang bisa dilakukan hari ini, meskipun sederhana dan tidak dilihat orang lain. Pesan ini ditutup dengan ajakan untuk membangun komunitas yang saling menopang, bukan menghakimi. “Naik level yang sejati adalah ketika kita berhenti mengejar pengakuan dunia dan mulai mengejar perkenanan Tuhan,” tegasnya.
Sesi berikutnya adalah sambutan dari Direktur Eksekutif PPPK Petra, Ir. Hengkie Porawouw, M.B.A.. Ia membagikan narasi kepemimpinan yang jujur dan transformatif:
- The Loneliness at the Top: Beliau memberikan perspektif mengenai pencapaian karier, yang mana semakin tinggi posisi, tanggung jawab terasa semakin berat dan kerap kali terasa sepi (lonely). Namun, ia menegaskan bahwa kesepian dalam tanggung jawab ini adalah peluang spiritual. Saat dukungan manusia terasa minim, itulah saatnya pemimpin semakin mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai satu-satunya sumber kekuatan dan dorongan utama.
- Visi Road to 75 dan Menyongsong 100 Tahun: Menjelang usia satu abad PPPK Petra, ia membedah makna di balik tema “Crafting the Future and Embracing HIStory”. Sejarah (history) dimaknai sebagai “cerita Tuhan” pada masa lampau yang harus disyukuri, sementara masa depan adalah “cerita Tuhan” yang sedang dan akan dirajut bersama seluruh elemen organisasi.
- Esensi Pemberdayaan dan Mandat Budaya: Baginya, naik level bukan sekadar urusan angka, melainkan peningkatan kualitas manusia—mulai dari semangat, kompetensi, hingga kemampuan bekerja sama. Dengan nada tegas namun penuh kasih, ia menekankan bahwa bangunan organisasi harus berpijak pada fondasi iman Kristen yang kuat dan kesiapan setiap individu untuk menjalankan “mandat budaya” melalui pendidikan Kristen. Sikap keras yang terkadang ia tunjukkan adalah bentuk penjagaan terhadap integritas organisasi demi masa depan yang berkelanjutan.
Memasuki sore hari, Bapak Yerymia membawa peserta menyelami sisi batin melalui tema “Strengthening Resilience, Building Sustainability”. Ia membuka sesi dengan realitas jujur bahwa di Petra, bekerja dan pelayanan adalah satu. Namun, penyatuan ini sering menciptakan beban ganda yang menguras batin.
Bapak Yery mengingatkan tentang siklus berbahaya: dimulai dari semangat membara, memaksakan kompetensi diri, hingga tiba pada titik kelelahan ekstrem (burnout). Di titik ini, pusat hidup (center) mulai bergeser dari Tuhan ke tumpukan tugas. Beliau menekankan bahwa spiritualitas adalah transformasi holistik (heart, head, hands) yang membentuk siapa kita di hadapan Allah (Coram Deo).
Mengaitkan latar belakangnya sebagai sarjana pertanian serta kilas balik keluarga dalam pengalaman pribadi merawat pohon anggur, Bapak Yery membedah Yohanes 15:1-8 melalui dua kunci utama:
- Resilience (Ketangguhan): Bukan soal seberapa kuat kita menahan hantaman, melainkan seberapa dalam kita bergantung pada Kristus. Seperti ranting yang tak bisa berbuah tanpa pokoknya.
- Sustainability (Keberlanjutan): Melalui proses pemangkasan (pruning). Tuhan sering “memangkas” ego, ambisi, dan kesibukan kita, agar kita tidak sekadar sibuk, tetapi benar-benar berbuah.
Ia menawarkan strategi praktis: daily re-centering (menata fokus pagi hari), sacred pause in the work life (jeda kudus 2-3 menit di sela jam kerja untuk menyadari kehadiran Allah), dan silence (keheningan untuk mendengar suara Tuhan).
Sesi ini mencapai puncaknya pada momen sakral: praktik lectio divina. Di bawah bimbingan Bapak Yery, seluruh peserta belajar menjumpai Tuhan secara pribadi melalui empat tahapan:
- Lectio: Membaca nats perlahan hingga ada kata yang “menyapa” hati.
- Meditatio: Merenungkan kata tersebut dalam konteks kelelahan atau luka batin.
- Oratio: Berbisik jujur kepada Tuhan tentang apa yang dirasakan.
- Contemplatio: Berdiam diri dan menikmati pelukan kasih Tuhan tanpa kata-kata.
Hari pertama ditutup dengan malam keakraban yang dipandu oleh tim panitia. Suasana yang tadinya formal dan penuh perenungan berubah menjadi hangat dan cair, mempererat ikatan emosional antarstaf dari berbagai divisi, membuktikan bahwa di bawah naungan PPPK Petra, mereka benar-benar satu keluarga besar.
Hari Kedua: Mengakar dalam Kasih, Bertumbuh dalam Kesatuan
Kegiatan hari kedua dimulai dengan persiapan pribadi pada pukul 06.30 WIB, diikuti dengan sarapan bersama untuk mempererat kebersamaan. Sebelum melanjutkan petualangan, seluruh peserta mengikuti renungan pagi yang dipimpin oleh Ibu Ruth dengan tema “Keluarga Allah dalam Dunia Pendidikan”.
Dalam renungan ini, peserta diingatkan bahwa di lingkungan pendidikan, mereka bukan sekadar rekan kerja, melainkan sebuah komunitas yang dipanggil untuk saling mengasihi, menghormati, dan menopang berdasarkan kasih Kristus (Yohanes 13:34).
Ibadah pagi ini dimulai dengan alunan pujian “Indahnya Kasih Tuhan”, yang membawa jemaat pada kesadaran bahwa setiap pelayanan adalah buah kasih karunia-Nya. Suasana syukur ini kemudian diperkuat dengan komitmen iman melalui lagu “Firman-Mu Ku Pegang Selalu”, sebuah deklarasi bahwa Firman Tuhan tetap menjadi satu-satunya kompas teguh di tengah dinamika yang ada.
Puncak perenungan berakar pada pesan Kristus dalam Yohanes 13:34, yang memanggil setiap individu untuk saling mengasihi dengan standar yang melampaui logika duniawi. Kasih di sini dipahami bukan sekadar perasaan, melainkan “seragam rohani”—sebuah identitas korporat yang seharusnya menjadi ciri khas setiap anggota keluarga besar PPPK Petra. Kita diajak untuk meninggalkan pola pikir timbal balik dan beralih pada standar kasih Kristus yang rela berkorban, mengampuni, dan mengutamakan kepentingan sesama. Dalam ekosistem kerja, perbedaan pendapat dipandang sebagai hal yang wajar, namun kasih Kristuslah yang menjadi perekat utama agar visi bersama tetap tercapai tanpa ada yang terpecah.
Acara diakhiri dengan momen perpisahan salah satu pegawai PPPK Petra, yaitu Bapak Lenno Jabinian, yang mengakhiri masa tugasnya di PPPK Petra mengemban tugas sebagai guru dan staf BK PPPK Petra. Bapak Hengkie pun memberikan cenderamata sebagai ucapan terima kasih kepada Bapak Lenno.
Kebersamaan: Wisata Alam di Eling Bening
Tepat pukul 09.30 WIB, rombongan berangkat menuju destinasi pertama, yaitu Eling Bening. Sejenak, para peserta diajak menikmati pemandangan alam yang memukau.
Eling Bening adalah destinasi wisata keluarga yang mengusung konsep resort modern yang berpadu harmonis dengan keindahan alam. Objek wisata yang terletak di perbukitan Ngrawan, Bawen ini resmi berdiri sejak tahun 2015. Eling Bening menawarkan pesona panorama alam yang luar biasa, memperlihatkan hamparan Rawa Pening yang luas serta deretan pegunungan megah seperti Gunung Merbabu, Andong, dan Telomoyo.
Di lokasi ini, peserta dapat mengeksplorasi beberapa spot foto yang menarik, antara lain:
- Perahu Naga (Dragon Ship): Ikon Eling Bening yang menjadi spot foto favorit dengan latar belakang pemandangan terbuka.
- Infinity Pool: Kolam renang dengan air jernih yang seolah menyatu dengan awan dan pegunungan.
- Taman Bunga dan Spot Selfie: Area taman yang tertata rapi serta berbagai spot foto instagramable seperti ayunan gantung dan sarang burung.
- Area Outbound and Playground: Fasilitas rekreasi yang mendukung aktivitas fisik dan keceriaan.
Kunjungan di sini kemudian diakhiri dengan makan siang yang nikmat. Acara kebersamaan yang santai, namun bermakna. Tak mau melewatkan momen, beberapa divisi melakukan sesi foto bersama, merekam senyum dan kekompakan tim dengan latar belakang keindahan alam Eling Bening yang menyejukkan mata.
Kebersamaan: Dusun Semilir
Perjalanan berlanjut menuju Dusun Semilir pada pukul 13.00 WIB. Di lokasi ini, kegiatan dipandu oleh panitia. Peserta diberikan waktu yang cukup panjang untuk mengeksplorasi wahana yang ada, sekaligus membeli oleh-oleh sebagai buah tangan sebelum kembali ke rutinitas di Surabaya.
Sebagai destinasi wisata hits yang dibuka sejak Mei 2019, Dusun Semilir Eco Park menawarkan konsep unik yang memadukan wisata alam, budaya, dan kuliner dalam satu kawasan terpadu. Ikon utamanya adalah bangunan megah berbentuk stupa raksasa yang terinspirasi dari Candi Borobudur, namun dengan sentuhan arsitektur modern yang artistik.
Setelah puas mengeksplorasi keceriaan di Dusun Semilir, rombongan menuju Rumah Makan Bebek dan Ayam Goreng Pak Eko, Bawen, untuk menikmati makan malam bersama. Hidangan khas yang lezat menjadi pelengkap sempurna untuk memulihkan energi sekaligus menjadi momen ramah tamah terakhir sebelum bertolak kembali ke Surabaya.
Pukul 18.30 WIB, bus mulai bergerak meninggalkan Bawen. Selama perjalanan pulang, suasana hangat dan penuh rasa syukur menyelimuti seluruh peserta. Rombongan akhirnya tiba di Surabaya sekitar pukul 22.00 WIB.
Beberapa peserta kegiatan sempat mengutarakan kesannya dari mengikuti retret ini. Bapak Felipe (Bagian Sarana dan Prasarana Kantor Sekretariat) mengatakan, “Retret ini membuat kita semakin akrab satu sama lain, didukung lingkungan suasana asri dengan pepohonan rindang serta tempat acara yang bisa dikatakan gedung lama namun tetap terawat dan nyaman.” Ia mengutarakan pendapat dari sisi sarana dan prasarana, bagaimana sebuah kegiatan atau acara bisa berjalan baik itu tak lepas dari dukungan fasilitas-fasilitas yang memadai.
Ibu Kezia (Dana Pensiun) mengungkapkan, “Acara retret ini bagus bagi kami (yang dari Dana Pensiun) untuk bisa bertemu dan menjalin keakraban dengan rekan-rekan dari Kantor Sekretariat PPPK Petra.”
“Dari pertemuan ini kami bisa saling sharing, contohnya tentang lingkungan kerja masing-masing. Kami baru tahu kalau ruang di kantor sekretariat ternyata dibagi per bagian. Dan juga rasanya lega bisa berinteraksi langsung tanpa ada sekat dengan rekan-rekan dari kantor sekretariat. Yang sebelumnya (dari kontak surat ataupun telepon) kami hanya tahu dari namanya saja, sekarang kami bisa bertemu orang-orangnya secara langsung,” tambah Ibu Sheron (Dana Pensiun).
Begitu pula dengan Bapak Mintarjo (Bagian Umum Kantor Sekretariat) yang merasakan kesan positif, “Menurut saya kegiatan retret ini bagus untuk kebersamaan dan sangat menyenangkan.”
Sebagai Ketua Paguyuban Kantor Sekretariat PPPK Petra, Ibu Theresia menjelaskan singkat terkait diadakannya kegiatan ini, “Tujuan diadakannya kegiatan ini, salah satunya supaya semuanya guyub. Selama ini kan berkecimpung dengan pekerjaan masing-masing, divisi masing-masing. Nah… dengan kegiatan ini, peserta bisa melepas, rileks, bersama-sama menikmati kebersamaan, rekreasi bareng, guyon bareng, tanpa ngomong tentang pekerjaan.”
Perjalanan ini tidak hanya meninggalkan kenangan manis di tempat wisata, tetapi juga mempererat ikatan kekeluargaan di antara seluruh staf Kantor Sekretariat PPPK Petra, termasuk di Dana Pensiun, untuk melangkah maju dengan semangat baru.
Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!
editor's pick
latest video
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua





























