PPPK Petra Gelar Webinar Nasional Integrasi Critical Thinking dan Computational Thinking di Era AI (Bagian I)
SURABAYA — Kadang kala kita bertanya-tanya: bagaimana cara membekali generasi masa depan agar tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI)? Jawabannya bukan lagi sekadar menghafal, tetapi berpikir.
Dalam rangka menyambut Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei, sekaligus merayakan Hari Ulang Tahun ke-75 PPPK Petra, PPPK Petra menyelenggarakan webinar nasional bertema “Membangun Generasi Pemikir Kritis dan Inovatif: Integrasi Critical Thinking dan Computational Thinking di Era AI”. Webinar ini berlangsung dalam tiga sesi selama tiga hari, yaitu pada 18–20 Mei 2026, pukul 19.00–20.30 WIB, melalui Zoom Meeting.
Webinar nasional ini menghadirkan tiga pakar di bidangnya, yaitu Dr. Yulia Wahyuningsih, M.Kom., Prof. Daniel Siahaan sebagai keynote speaker, serta Ibu Oviana Listiyaningrum, S.Pd., M.Mat.. Ketiganya membawakan materi dalam sesi yang berbeda sesuai dengan fokus pembahasan masing-masing.
Pada hari pertama, Senin, tanggal 18 Mei 2026, webinar mengangkat materi “Fondasi Critical Thinking dalam Pembelajaran Modern: Bagaimana Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Murid di Era Artificial Intelligence (AI)”. Sesi ini dibawakan oleh Dr. Yulia Wahyuningsih, M.Kom., seorang akademisi teknologi dan entrepreneur yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang pendidikan, pengembangan perangkat lunak, dan riset. Untuk hari pertama, ada Ibu Gabriella Prillycia Mantiri, M.Psi. yang bertindak sebagai moderator dan memandu jalannya webinar.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya jumlah pendaftar yang menembus angka 1.020 peserta. Pada hari pertama pelaksanaan, peserta yang hadir tidak hanya berasal dari lingkungan internal PPPK Petra, tetapi juga dari berbagai sekolah, universitas, serta instansi pendidikan lain. Bahkan, peserta turut bergabung dari luar Surabaya, seperti Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Malang, Cirebon, Bangka Belitung, hingga Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Barat.
Dalam pemaparannya, Dr. Yulia menegaskan bahwa berpikir kritis merupakan keterampilan penting yang harus dilatih sejak dini, terutama di tengah perkembangan AI yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. AI memang mampu membantu manusia menjawab pertanyaan dengan cepat, merangkum informasi, menghasilkan teks yang terstruktur, serta menemukan pola dalam data yang besar. Namun, AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan kemampuan manusia dalam bertanya, mengevaluasi jawaban, memberi makna, memahami konteks, dan mengambil keputusan.
Menurut Dr. Yulia, AI sebaiknya tidak dipandang sebagai musuh atau pengganti proses berpikir manusia. Sebaliknya, AI dapat menjadi titik awal untuk belajar lebih jauh. Jawaban yang diberikan AI perlu diperiksa, dibandingkan, dan dianalisis kembali agar tidak diterima begitu saja sebagai kebenaran akhir.
Ia menjelaskan bahwa critical thinking bukanlah kemampuan bawaan lahir, melainkan keterampilan yang dapat dilatih. Berpikir kritis berarti mampu menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, menarik kesimpulan berdasarkan bukti, menjelaskan alasan dengan jelas, serta memperbaiki cara berpikir secara terus-menerus.
Dalam konteks pembelajaran modern, guru memiliki peran penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis murid. Salah satunya melalui teknik bertanya Socratic, yaitu teknik bertanya berlapis yang mendorong murid untuk tidak hanya mengingat informasi, tetapi juga memahami, menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan solusi baru. Pertanyaan sederhana seperti “Mengapa?”, “Apa yang akan berubah jika…?”, atau “Mana yang lebih kuat dan mengapa?”, dapat menjadi pintu masuk untuk melatih murid berpikir lebih dalam.
Selain itu, guru juga diajak untuk merancang tugas yang ‘tahan AI’. Artinya, tugas tidak hanya meminta murid menjelaskan atau merangkum informasi, tetapi juga mengajak mereka menghubungkan materi dengan konteks nyata, menggunakan data lokal, menyampaikan alasan pribadi, serta mendokumentasikan proses berpikir mereka.
Sebagai contoh, dibandingkan hanya meminta murid menjelaskan proses hujan asam, guru dapat mengajak murid meneliti industri di kota mereka yang berpotensi menyebabkan hujan asam, lalu meminta mereka memberikan solusi yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Dengan cara ini, murid tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga belajar memahami masalah, mengolah informasi, dan mengambil sikap berdasarkan alasan yang kuat.
Tidak hanya guru, orang tua juga memiliki peran besar dalam menumbuhkan critical thinking anak di rumah. Orang tua tidak perlu selalu melarang anak menggunakan AI. Yang lebih penting adalah mendampingi anak dalam menggunakannya secara bijak.
Ketika anak berkata, “Tanya saja ke AI,” orang tua dapat merespons dengan pertanyaan yang mendampingi, misalnya, “Boleh. Setelah dapat jawaban, coba pikirkan, apa yang belum diceritakan AI?” Dengan pendekatan seperti ini, anak diajak untuk tidak langsung percaya, tetapi belajar membandingkan, mengkritisi, dan menggali informasi lebih dalam.
Beberapa pertanyaan sederhana juga dapat digunakan oleh orang tua dalam percakapan sehari-hari, seperti “Menurutmu, apa yang AI tidak bisa lakukan tetapi manusia bisa?”, “Adakah informasi hari ini yang menurutmu terasa aneh?”, atau “Kalau kamu menjadi guru, bagaimana kamu akan menjelaskan topik ini?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu anak membangun kebiasaan berpikir, bukan sekadar menerima jawaban.
Webinar ini juga menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dan rumah. Berpikir kritis tidak dapat dibangun hanya oleh guru di kelas atau orang tua di rumah. Keduanya perlu berjalan bersama. Guru dapat merancang pertanyaan pemantik dalam pembelajaran, sementara orang tua dapat melanjutkan diskusi tersebut dalam percakapan sehari-hari di rumah.
Dalam sesi diskusi, peserta juga mengajukan pertanyaan terkait perkembangan AI, literasi anak, serta tantangan guru dalam membangun kemampuan berpikir kritis. Salah satu poin penting yang muncul adalah bahwa literasi tetap menjadi dasar penting dalam pengembangan critical thinking. Anak perlu dibiasakan membaca, memahami informasi, menyampaikan pendapat, dan memberikan alasan agar mampu berpikir lebih jernih dan mendalam.
Sebagai tambahan informasi, webinar nasional ini terbuka untuk umum. Peserta hanya dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp20.000,- dan mendapatkan berbagai benefit, antara lain e-sertifikat, materi narasumber, serta rekaman webinar yang dapat ditonton ulang.
Pendaftaran webinar dapat dilakukan melalui tautan:
https://s.id/WebinarPetra-Mei26
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Admin Yakub: 082257877655
Admin Dwikki: 089678521375
Melalui webinar nasional ini, PPPK Petra kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Pada usia ke-75, PPPK Petra terus mendorong guru, orang tua, dan seluruh stakeholder pendidikan untuk bersama-sama mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu berpikir kritis, bijak menggunakan teknologi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Sebagaimana disampaikan dalam penutup sesi pertama, berpikir kritis bukan tentang meragukan segalanya. Berpikir kritis adalah tentang memastikan bahwa kita mengajukan pertanyaan yang tepat sebelum menerima jawaban apa pun, termasuk dari AI.
Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!
editor's pick
latest video
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua








