Orasi Hari Bumi SMA Kristen Petra 5 Surabaya
Persiapan orasi itu yang menarik, karena seluruh siswa yang mengikuti kelas Geografi 1 dan Geografi 2 benar-benar belajar tentang cara melindungi bumi. Selama sebulan, delapan kelompok memikirkan pilihan tema yang diangkat dalam orasi. Tema yang diangkat adalah deforestasi, food waste, kerusakan terumbu karang, hemat air, polusi udara, 3R, sampah plastik, dan fast fashion. Mereka bekerja sama agar semua peran bisa dijalankan. Setiap kelompok menyiapkan multimedia, pembawa orasi, pembuat naskah orasi, pencari materi orasi, data kerusakan dan dampak bagi lingkungan, serta desain dan pembuat media orasi. Data yang terkumpul banyak, tetapi mereka harus bisa mengemas dalam orasi singkat, satu menit. Itu mengingat pemakai jalan hanya berhenti sekitar satu menit di traffic light. Mereka hanya punya waktu sedikit untuk mendengarkan orasi. Itu sebabnya, tingkat kesulitannya cukup tinggi ketika menyiapkan orasi pendek, menarik, sekaligus dapat mendorong masyarakat untuk mencintai bumi. Bukan hanya pesan yang ingin disampaikan, mereka juga harus mengemas seluruh waktu yang ada agar membuat audiens tertarik. Selain materi yang sudah siap, cara menyampaikan materi juga penting. Perlengkapan lain juga harus dipikirkan, seperti kostum dan media yang akan dibawa. Semua harus mudah diingat pengguna jalan. Semua alat yang digunakan orasi menggunakan barang bekas, sehingga secara tidak langsung mereka menerapkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Kelompok terumbu karang menggunakan berbagai persiapan untuk menyampaikan pesan-pesan penting. Banner kelompok itu dihiasi dengan tema nuansa laut yang dilengkapi dengan gambar ikan-ikan kecil serta elemen gelembung yang menggambarkan laut. “Kita sebagai masyarakat dan makhluk hidup di bumi harus saling menjaga ekosistem/lingkungan sekitar, terutama ekosistem laut (terumbu karang) yang harus diselamatkan,” kata Evelyn Febriana Wijaya, salah satu anggota kelompok itu. Kelompok Reycya mengangkat tema 3R. Mereka memanfaatkan barang bekas tanpa menggunakan barang baru. “Kami sempat deg-degan karena ini adalah kali pertama secara langsung menyampaikan orasi di depan publik. Apalagi publiknya benar-benar tidak dikenal. Supaya menarik, kelompok kami menyiapkan gantungan kunci yang dibagikan ke para pengendara. Gantungan kunci itu dibuat dari tutup botol bekas,” kata Reycya Anggreani Parinding Gala, hari Selasa, tanggal 14 April 2026. Sama-sama mengambil tema 3R, Sharena Abigail Sonaru mulai memahami kekhawatiran akan kerusakan bumi. Ia bersama kelompoknya mencari data yang membuat mereka prihatin. Tas plastik membutuhkan waktu 10-30 tahun untuk terurai dan botol plastik membutuhkan 450 tahun untuk terurai. “Yang paling berat itu menyiapkan mental karena harus berorasi di jalan raya. Belum tentu pengendara memberi perhatian. Itu yang menjadi tantangan. Bagaimana caranya menarik perhatian mereka dan dapat membagikan informasi tentang lingkungan hidup kepada pengendara,” ungkap Vettel Chrisnandi Palar. Proses penyiapan orasi memang tidak mudah. Akan tetapi, selama proses itu, mereka belajar banyak tentang bumi. Mereka melihat masalah, mencari solusi, dan menjawab tantangan.
“Setelah momen Hari Bumi kemarin, saya jadi sadar kalau semua proses dan usaha kecil itu sebenarnya mirip dengan cara kita menjaga bumi. Nggak harus selalu besar. Tetapi kalau kita mulai dari hal sederhana dan dilakukan dengan kesadaran, itu bisa berarti banyak. Bumi ini rumah kita, jadi sudah seharusnya kita jaga bersama. Maka, mulailah dari diri sendiri,” imbuh Reycya. (pjr)
Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!
editor's pick
latest video
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua

