Earned Through Strength
Hai, teman-teman semua! Senang sekali bisa berjumpa kembali melalui cerita pada kesempatan ini. Kami akan menceritakan tentang pengalaman ketika mengikuti lomba OLMIPA tingkat Jawa Timur yang diadakan oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Pagi itu, tepatnya hari Sabtu, tanggal 25 Oktober 2025, udara terasa sejuk di halaman kampus Unesa. Saya, Jio Deven Kenzell Alvaro, bersama teman saya yang bernama Nathanael Anderson, bersiap mengikuti lomba Math-Science Competition tingkat Jawa Timur. Lumayan banyak tim dari sekolah lain yang ikut serta dalam lomba ini. Kami sudah berlatih kurang lebih selama dua minggu penuh dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi lomba ini.
Pada saat lomba, kami tidak bisa memungkiri bahwa kami sangat gugup. Ada dua ratus tim peserta yang ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Kami berusaha mengerjakan delapan puluh soal math–science pada babak penyisihan. Saya dan Nael saling bekerja sama untuk menjawab semua soal. Babak penyisihan pun selesai, dan kami harus menunggu pengumuman peserta yang lolos ke babak semifinal. Setelah menunggu, akhirnya waktu pengumuman tiba. Kami berdiri di depan panggung sambil berdebar. Panitia mulai menyebutkan lima belas tim yang lolos ke babak berikutnya. Tim sekolah kami menjadi salah satu di antaranya. “Yeeeyy!” Kami bersorak penuh sukacita. Kami sadar bahwa pada babak semifinal kami harus berjuang lebih keras lagi supaya bisa lolos ke babak final.
Pada babak semifinal, kami harus mengerjakan tiga puluh soal math–science. Tentu saja tingkat kesulitan semakin bertambah, dan kami berusaha untuk tetap fokus dan tenang dalam menjawab semua soal. Ketika waktu pengerjaan selesai, kami pun menunggu pengumuman untuk peserta yang berhasil lolos ke babak final. Panitia hanya memilih lima tim ke babak final. Perasaan kami semakin tidak menentu. Perasaan gugup semakin menjadi-jadi ketika panitia mulai membacakan tim yang lolos ke babak final. Puji Tuhan, nama kami termasuk di antara lima tim yang berhak maju ke babak final.
Babak final adalah babak penentuan untuk meraih juara. Babak ini terbagi menjadi tiga, yaitu: mengerjakan Quizizz, menjawab salah/benar, dan cerdas cermat dengan soal math-science. Kelima tim duduk di depan para juri. Sistuasi seperti ini sangat menambah kegugupan kami. Soal-soal yang kami kerjakan pun bertambah sulit. Saya dan Nael seolah-olah tidak bisa tersenyum karena terus fokus pada setiap pertanyaan, terutama pada bagian cerdas cermat. Kami harus mendengarkan pertanyaan dan menekan bel jika ingin menjawab. Tim mana yang terlebih dahulu menekan bel, akan diberi kesempatan untuk menjawab. Pada babak cerdas cermat, kami bisa menjawab banyak soal dengan benar. Kami merasa sedikit percaya diri bahwa paling tidak kami bisa masuk tiga besar.
Akhirnya, tibalah saat pengumuman pemenang lomba. Salah satu dewan juri naik ke panggung dan mengumumkan tiga tim juara. Hati kami berdua semakin berdebar karena nama kami tak kunjung disebut. Ketika giliran Juara I, kami sudah merasa mungkin ini bukan waktu kami untuk menang. Tetapi apa yang terjadi… nama sekolah dan kami berdua ternyata disebut sebagai peraih Juara I! Wow… sebuah pengalaman dan perasaaan yang luar biasa. Kami pun bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kami sehingga mampu meraih prestasi ini.
Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!
editor's pick
latest video
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua






