Suntikan Motivasi dari Jepang: Kenshi Muda Petra Asah Teknik dan Karakter pada Event Latihan Bersama

Published On: January 30, 2026

SURABAYA – Semangat pembinaan karakter dan penguatan mental mewarnai kompleks sekolah Petra Jemur Andayani. Selama dua hari penuh, Jumat–Sabtu (30–31 Januari 2026), Aula SMA Kristen Petra 5 Surabaya di Jalan Jemur Andayani XVII/2 menjadi pusat perhatian dunia bela diri Jawa Timur melalui agenda “International Sharing Session Latihan Bersama”. Tak kurang dari 114 Kyu Kenshi Surabaya dan 30 Yudansha Jawa Timur berkumpul untuk menimba ilmu langsung dari dua maestro Jepang, Sensei Masahiko Goda (VIII DAN) dan Sensei Makoto Hagata (VII DAN).

Kegiatan internasional ini merupakan bagian integral dari program One Stop Learning (OSL) yang dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (Litbang) PPPK Petra. Bapak Lianto Atmodjo, Kepala Pusat Litbang PPPK Petra, menjelaskan bahwa OSL dirancang sebagai wadah bagi orang tua untuk mengasah potensi anak secara profesional. “”Saat ini kami mengelola sekitar 10 bidang OSL mulai dari robotik, seni, olahraga, hingga fashion. Dan kedepan akan banyak lagi bidang-bidang OSL yang menarik dan kekinian. Shorinji Kempo dipilih karena filosofinya yang seimbang dan gerakannya yang ‘lembut’ namun efektif, sehingga sangat aman bagi perkembangan fisik siswa dari jenjang SD hingga SMA,” ungkap Bapak Lianto. Beliau menegaskan bahwa program ini tidak hanya mengejar prestasi fisik semata, tetapi juga membentuk ketangguhan mental serta spiritual sebagai bagian dari konsep pendidikan holistik Petra.

Ketua KONI Surabaya, Bapak Arderio Hukom, S.H., M.Kn., yang turut hadir memberikan dukungan moral bagi keberlanjutan prestasi ini. Beliau menyampaikan bahwa kehadiran para ahli langsung dari Jepang adalah kesempatan langka untuk meningkatkan kualitas kenshi Surabaya sebagai persiapan strategis menghadapi agenda besar seperti Porprov maupun Kejurda, guna mempertahankan predikat Surabaya sebagai lumbung atlet berprestasi.

Ketua Umum PERKEMI Surabaya, Ir. Agus Priyo Santoso, menyambut kehadiran kedua maestro tersebut di “Kota Pahlawan” dengan rasa hormat dan bangga. Dalam sambutannya di hadapan para pengurus dojo, pelatih, dan wali kenshi, beliau menegaskan bahwa latihan ini adalah wujud nyata persaudaraan internasional. “Kehadiran Sensei berdua merupakan suatu kehormatan besar. Tidak setiap hari kami mendapat kesempatan berinteraksi langsung dengan pakar internasional. Bagi kami, ini bukan sekadar agenda latihan, melainkan momen penting agar para kenshi memahami bahwa bela diri bukan hanya soal teknik atau menang dan kalah, tetapi soal sikap, karakter, mental, dan nilai-nilai kehidupan,” tegas Ir. Agus Priyo. Beliau berharap para kenshi dapat belajar tentang arti disiplin, ketekunan, dan rasa hormat tanpa merasa paling hebat. “Ilmu yang diberikan Sensei hari ini tidak boleh berhenti di atas matras saja, tetapi harus menjadi bekal untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, tangguh, rendah hati, dan bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat.” Beliau juga menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada Dojo Petra Surabaya sebagai tuan rumah penyelenggara, serta seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini.

Aula Petra berubah menjadi lautan kenshi yang penuh semangat saat mempelajari teknik dasar (kihon). Pemandangan menarik terlihat dari antusiasme anak-anak yang datang dari berbagai tingkatan warna sabuk, mulai dari Kyu 6 (Sabuk Putih), Kyu 5 (Kuning), Kyu 4 (Oranye), Kyu 3 (Hijau), hingga Kyu 2 (Biru). Kehadiran para maestro Jepang memberikan energi tambahan bagi mereka untuk menyempurnakan setiap gerakan dengan penuh kedisiplinan. Momen ini sekaligus menjadi tonggak aktifnya kembali Dojo Kempo PPPK Petra. Bapak Bambang Hermawan, Guru PJOK SMA Kristen Petra 5, menjelaskan bahwa dojo ini adalah upaya menghidupkan kembali kejayaan tahun 1992–2004. Kini, Dojo Petra kembali terbuka luas bagi masyarakat umum, terbukti dengan raihan tiga medali emas pada ajang Piala KONI baru-baru ini.

Antusiasme luar biasa juga datang dari orang tua kenshi. Ibu Linda, orang tua dari Peter Theophilus (kelas 6 SD Petra 9), menyampaikan rasa syukur atas pembinaan ini. “Kami melihat Shorinji Kempo sebagai bekal Peter untuk membela diri. Setelah enam bulan berlatih, anak saya menunjukkan perubahan positif: tubuh lebih sehat, pola tidur teratur, emosi lebih stabil, dan disiplinnya meningkat,” ungkapnya.

Latihan bersama ini ditutup dengan semangat Budo yang kuat—semangat untuk saling menghormati dan menguatkan. Melalui sinergi antara KONI Surabaya, PPPK Petra, dan PERKEMI Surabaya, diharapkan lahir generasi kenshi yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara karakter dan berjiwa ksatria selaras dengan prinsip: “Kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman, kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan.”

Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!