Dari Informasi ke Kepercayaan: Pelatihan Public Communication untuk Guru Wali PPPK Petra

Published On: February 9, 2026

Pelatihan Public Communication for Teachers yang diselenggarakan oleh PPPK Petra kembali digelar sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam membekali para pendidik dengan keterampilan komunikasi publik yang relevan dengan kebutuhan orang tua masa kini. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 7 Februari 2026, pukul 06.30–14.30 WIB, bertempat di Aula SD Kristen Petra 7, Jalan Kalianyar No. 33–41, Surabaya. Peserta yang hadir merupakan para wali kelas jenjang SMP–SMA/SMK, melanjutkan seri pelatihan serupa yang sebelumnya diikuti oleh wali kelas KB–TK–SD.

Pelatihan ini menghadirkan benang merah yang jelas: komunikasi bukan sekadar “menyampaikan informasi sekolah”, melainkan membangun kepercayaan. Di dunia pendidikan, kepercayaan orang tua adalah titik awal dari keputusan besar—memercayakan proses tumbuh-kembang anak, karakter, hingga masa depan. Karena itu, PPPK Petra menempatkan komunikasi publik sebagai kompetensi inti yang harus dimiliki para guru wali, bukan hanya tim penerimaan siswa.

Sesi awal dibawakan oleh Ibu Felicia Goenawan, S.E., M.Si., dosen dari Departemen Strategic Communication, Petra Christian University, yang memaparkan kerangka komunikasi publik dengan pendekatan yang menyejukkan: sekolah tidak perlu tampil “menekan”, tetapi menghadirkan rasa aman lewat soft selling yang empatik dan terarah. Ia menekankan pergeseran cara pandang dari “menjual sekolah” menuju memenangkan kepercayaan orang tua—sebuah trust building yang dimulai sejak kesan pertama, cara menyapa, bahasa tubuh, hingga cara mengelola percakapan agar orang tua merasa didengar dan dihargai.

Dalam pemaparannya, Ibu Felicia menggarisbawahi pentingnya The Art of Inquiry—kemampuan bertanya dengan tepat untuk memahami kebutuhan, sekaligus meminta izin untuk melanjutkan percakapan agar komunikasi terasa sopan, tidak menginterogasi, dan tetap hangat.

Kerangka yang ditawarkan juga sangat praktis untuk para guru wali: memetakan ICP/target layanan, memperkuat product knowledge (2–3 keunggulan utama), menyiapkan materi komunikasi yang ringkas, hingga menyusun elevator pitch 30 detik dengan format F-M-R (Fitur–Manfaat–Relevansi).

Hal lain yang ditekankan adalah teknik komunikasi di lapangan ketika bertemu orang tua: membaca timing yang tepat, memanfaatkan kekuatan lokasi/aktivitas yang dapat didemonstrasikan, serta memahami siapa pengambil keputusan—mulai dari gatekeeper hingga decision maker—agar tindak lanjut tidak salah sasaran.

Pada titik ini, peran guru wali menjadi sangat strategis, karena mereka berada di posisi yang paling dekat dengan “cerita nyata” pembelajaran dan perkembangan anak.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Dr. Andi Chaidir, S.Si., M.M., M.B.A., Ph.D., Manajer Perekrutan dan Pelatihan PPPK Petra, yang mengajak peserta masuk ke sesi roleplay—mensimulasikan skenario pertemuan dan dialog dengan orang tua, baik orang tua siswa yang sudah bergabung maupun calon orang tua yang tengah mempertimbangkan pilihan sekolah. Latihan ini menjadi ruang aman bagi para wali kelas untuk menguji cara merespons pertanyaan, mengelola keberatan, serta menyampaikan pesan sekolah secara meyakinkan namun tetap bersahabat.

Dalam pemaparannya, Bapak Andi menegaskan harapan besar dari pelatihan ini: para guru wali diperlengkapi dengan soft skill public communication agar mampu menghadapi orang tua dengan percaya diri, memberikan informasi tepat sesuai dengan product knowledge, menjawab kebutuhan orang tua secara relevan, dan pada akhirnya mendorong ketertarikan untuk mendaftarkan putra-putri mereka di Sekolah Petra masing-masing. Lebih jauh, pelatihan ini juga diarahkan untuk memperkuat komunikasi dengan orang tua yang sudah bergabung demi menjaga kepuasan dan kesinambungan jenjang, termasuk peluang melanjutkan studi ke Petra Christian University (PCU) sebagai bagian dari ekosistem Petra secara keseluruhan. Menurutnya, kemampuan komunikasi yang kuat akan berdampak pada peningkatan retention rate serta daya saing sekolah dalam persaingan pendidikan sekolah Kristen.

Pada kesempatan tanya jawab, Ibu Felicia turut menyoroti pembeda penting dari pelatihan kali ini. Ia menilai para guru wali SMP–SMA/SMK semakin kuat dalam memahami siapa yang mereka layani—anak dan orang tua—secara lebih detail. Ia menekankan pentingnya melakukan “asesmen” terhadap kekuatan internal sekolah agar pencitraan dan komunikasi publik tepat sasaran. Sebab, meski program antarsekolah Petra bisa serupa, setiap unit memiliki kelebihan yang bahkan tidak dimiliki sekolah lain. Kelebihan inilah yang perlu diangkat sebagai strong point, sekaligus pembeda. Ia juga mendorong para guru wali untuk lebih berani dan percaya diri menyuarakan kreativitas yang kekinian, termasuk memanfaatkannya untuk edukasi publik melalui media sosial—agar masyarakat melihat Petra bukan “old style”, melainkan sekolah yang matang dalam nilai, tetapi progresif dalam pembelajaran.

Sejalan dengan itu, materi pelatihan juga mengingatkan bahwa keputusan orang tua hampir selalu bergerak pada dua sisi: rasio (fakta) dan emosi (harapan).

Maka, komunikasi yang efektif bukan hanya memaparkan fasilitas atau kurikulum, tetapi juga mampu menangkap kekhawatiran dan aspirasi orang tua—misalnya rasa aman saat anak mulai mandiri, harapan terhadap karakter, hingga kesiapan menghadapi pergaulan dan masa depan.

Pelatihan pun menekankan keterampilan active listening melalui validasi dan parafrase, agar orang tua merasa sungguh didengar sebelum menerima solusi.

Pada akhir sesi, peserta diajak memahami pentingnya penutupan percakapan yang lembut—bukan ajakan yang memaksa, melainkan tawaran langkah lanjut yang nyaman, seperti undangan trial atau kesempatan melihat proses belajar secara langsung.

Pesan intinya sederhana namun kuat: komunikasi yang baik bukan sekadar meninggalkan brosur, melainkan menggenggam empati—karena pada akhirnya, orang tua tidak hanya “memilih sekolah”, mereka sedang memercayakan masa depan.

Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!