Sinergi Strategis MPKW Jatim, PPPK Petra, Yayasan Gloria dalam Pelatihan “Teaching for Transformation”
Sidoarjo, 11 Februari 2026 – Di tengah tuntutan dunia pendidikan yang semakin dinamis, sebuah gerakan pemulihan identitas pendidik Kristen resmi digulirkan di Multipurpose Hall SMP Kristen Petra Acitya, Sidoarjo. Program intensif bertajuk “Teaching for Transformation” (T4T) ini merupakan implementasi nyata dari 7 Program Nasional MPK 2026 yang bertujuan memperlengkapi para pendidik menjadi agen transformasi sekolah.
Kegiatan ini merupakan buah kolaborasi tiga pilar besar: PPPK Petra, Yayasan Gloria, dan Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Wilayah Jawa Timur. Sebanyak dua puluh guru delegasi pilihan hadir untuk mendalami peran mereka yang bukan sekadar sebagai pengajar kurikulum, melainkan sebagai agen perubahan yang menghadirkan nilai Kerajaan Allah secara holistik. Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Dewan Pengurus PPPK Petra, yaitu Ir. Ika Iskandar Itamurti dan Dr. Ir. J. Heryanto, M.S., M.B.A.; perwakilan Kepala Sekolah PPPK Petra, yaitu Ibu Helda Christy Ratnasari, S.Pd., M.M. (Kepala SD Kristen Petra 9) dan Ibu Eva Zahora, S.Si., M.M. (Kepala SMP Kristen Petra 1); serta perwakilan Kantor Sekretariat PPPK Petra, yaitu dari KPKK, SDM, Direktorat Pendidikan, dan HMK.
Sesi pembukaan menjadi momen penting melalui renungan yang dibawakan oleh Pdt. Timotius Wibowo, yang juga sebagai Kepala KPKK PPPK Petra. Mengacu pada Roma 12:1-2, beliau mengupas tuntas syarat mutlak terjadinya sebuah perubahan hidup.
Dalam pesannya, Pdt. Timotius menegaskan satu prinsip fundamental: “Tiada transformasi tanpa dedikasi.” Untuk menjelaskan hal ini, beliau menunjukkan selembar kain batik tulis sutra yang telah ia simpan rapi di dalam kotak selama 20 tahun. Kain itu sangat indah. Namun selama dua dekade, ia tetaplah hanya sekadar “bakal” (bahan mentah).
“Potensi besar kain ini terhenti menjadi ‘bakal’ karena tidak pernah diserahkan untuk diproses. Apakah tujuan si pemberi kain agar saya menyimpannya selamanya di kotak? Tentu tidak. Ia memberikannya agar saya membawanya ke penjahit untuk dijadikan baju yang fungsional,” urai Pdt. Timotius.
Beliau menjelaskan bahwa proses transformasi di tangan “Sang Penjahit Agung” kerap kali melibatkan fase yang tidak nyaman:
- Penyerahan Total: Relasi pemilik dan barang harus berpindah tangan.
- Pemotongan: Penjahit akan menandai dengan kapur dan menggunting bagian-bagian tertentu. Jika kain bisa bicara, ia mungkin akan protes karena merasa “dirusak”.
- Penjahitan: Bagian yang terpotong disatukan kembali dengan tusukan jarum sesuai dengan pola baru.
Apa yang tampak seperti “perusakan” sebenarnya adalah proses pembentukan. Pendeta Timotius menekankan istilah Logike (ibadah yang logis), yang mana sangat tidak masuk akal jika seorang hamba (Abod) mengaku beribadah namun menolak untuk dibentuk oleh tuannya. “Jangan biarkan hidup Anda hanya menjadi ‘bakal’ yang disimpan rapi puluhan tahun tanpa pernah mencapai tujuan mulia Sang Pemilik. Transformasi hanya terjadi jika Anda tetap tinggal di atas mezbah dan membiarkan Allah bekerja,” pungkasnya.
Menyambung fondasi spiritual tersebut, Dr. Ir. J. Heryanto, M.S., M.B.A. dari Pengurus MPK Wilayah Jawa Timur memberikan penekanan bahwa T4T bukanlah sekadar program kerja administratif. MPK Indonesia memandang ini sebagai gerakan pemulihan. Kekuatan sekolah Kristen tidak terletak pada kemegahan fasilitas, melainkan pada identitasnya yang berpusat pada Kristus. Beliau mengapresiasi sinergi PPPK Petra dan Yayasan Gloria yang berkomitmen mencetak pendidik yang mampu menjadi “Epistole” (surat Kristus) yang dapat dibaca oleh setiap murid.
Bapak Happy Triarta, M.Min. memandu topik “Apakah Arti Menjadi Orang Kristen?”. Sesi ini dirancang agar guru tidak terjebak pada “Kristen tradisi”, melainkan memiliki perjumpaan pribadi dengan Kristus. Bapak Happy menekankan tiga langkah praktis bagi guru: menjaga relasi intim melalui saat teduh, menjadi duta kasih dalam keseharian sekolah, dan menjadi role model yang konsisten. Beliau bersyukur melihat para guru berani berefleksi secara jujur mengenai kekurangan mereka selama ini.
Ibu Liona Margareth, M.Th. membedah topik “Apakah itu Sekolah Kristen?” secara mendalam:
- Misi Amanat Agung: Sesuai dengan Matius 28:19-20, sekolah Kristen adalah medan untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus.
- Sinergi Sekolah dan Gereja: Beliau mencontohkan kemitraan Petra dengan GKI sebagai model ideal dengan gereja menyediakan koridor kebenaran untuk menjaga visi sekolah tetap murni.
- Dualitas Seimbang: Merujuk pada 2 Timotius 2:15, sekolah Kristen wajib mengejar standar akademik tertinggi tanpa mengorbankan pertumbuhan rohani. Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam membentuk pribadi yang utuh.
Peserta merespons dengan komitmen yang sangat spesifik untuk diimplementasikan di sekolah masing-masing:
- Bapak Yeremia Soleman Temaluru: Mengaku sangat tersentuh untuk kembali ke identitas aslinya. “Sebelum menjadi guru, saya harus menyadari siapa diri saya di hadapan Tuhan. Ke depannya, saya berkomitmen untuk memandang setiap siswa melalui kacamata kasih karunia,” tuturnya. Beliau bertekad memandang setiap siswa melalui “kacamata kasih karunia”, menyadari bahwa ia pun adalah ciptaan yang telah ditebus.
- Ibu Meisiyana Rasulita B. Sinurat (guru BK SMA Kristen Petra 3): Materi ini sangat relevan dengan tugasnya di ruang konseling. “Saya berencana memasukkan nilai-nilai kristiani secara eksplisit dalam materi BK klasikal dan membiasakan doa pada setiap awal serta akhir sesi konseling agar siswa merasa diberkati dan dikuatkan,” jelasnya.Berkomitmen menyisipkan firman Tuhan dalam konseling klasikal dan selalu mengawali pelayanan konseling pribadi dengan doa agar siswa merasakan kehadiran Tuhan.
- Bapak Martin Amos J. Manafe (guru PAK): Merasa tersegarkan dan ingin membangun komunitas pelayanan yang lebih inklusif dan saling merangkul di sekolah.
- Ibu Kinanti Astria Purnama Putri (guru BK): Menyatakan rasa syukurnya atas kesempatan mengikuti pelatihan ini. Baginya, sesi I dan II telah membuka perspektif baru tentang identitas diri sebagai orang Kristen dan peran sekolah Kristen. Ia berkomitmen untuk terus belajar dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam tugas mengajarnya sehari-hari.
Pelatihan yang berlangsung dari pukul 06.30 hingga 15.30 WIB ini akan berlanjut pada sesi kedua, hari Rabu, tanggal 18 Februari 2026 dengan pemateri Ibu Eva Zahora dan Ibu Helda. Melalui semangat Education Beyond Academics, kolaborasi PPPK Petra, Yayasan Gloria, dan MPK Jatim ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi lahirnya generasi emas yang takut akan Tuhan.
Bagikan Kisah Ini, Lewat Platform Favoritmu!
editor's pick
latest video
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua







































